Blogroll
About
Nia Utami
Jumat, 26 Oktober 2018
Fear
Hati itu begitu takut, sesekali ia juga ingin merasakan jatuh hati pada orang yg tepat, namun celakanya, hati itu selalu jatuh pada pemilik yg salah.
Rabu, 24 Oktober 2018
Hujan dan Kaca
Setahun berlalu, banyak tulisan yang ku buat untukmu.
Ntah hanya utk sekedar mengingat, ataupun karna ingin menyakiti diri sendiri.
Hari ini aku pergi ke tempat dimana biasa kita bertemu, lalu hujan membuat kaca semakin buram.
Aku ingat kau tepat berada disebelahku, kita mengambil gambar bersama, dan tertawa bahagia setelahnya.
Indah bukan? Iya, dulunya.
Sekarang aku bahagia, rasa sakitku melihat mu bersamanya pun sudah bukan hal penting lagi.
Sudah tanggal 24, aku mencintai tanggal ini sampai sekarang, tidak ada yg berubah.
Bagaimana dengan mu?
Kau bahagia?
Ku harap iya, karna akan menyedihkan jika kau tidak bahagia atas apa yg sudah kau putuskan.
Tenang, aku sudah selesai.
Setelah ini, mungkin kau akan melihat tulisan tentangmu menghilang secara perlahan.
Setahun bukan waktu yg singkat utk menyembuhkan luka, dan kau tidak akan paham rasanya.
Duduklah disini, ditepi kaca dan keramaian orang, maka kau akan tau, bagaimana perasaanku saat menulis semua ini.
Minggu, 14 Oktober 2018
Back To December
You've been good, busier than ever.
We small talk, work and weather.
Your guard is up, and I know why.
Because the last time you saw me.
You gave me roses, and I left them there to die.
We small talk, work and weather.
Your guard is up, and I know why.
Because the last time you saw me.
You gave me roses, and I left them there to die.
Jumat, 12 Oktober 2018
Selasa, 09 Oktober 2018
Return
Dia baru sempat berkunjung, beberapa hari ia lewatkan bersama dunia yg begitu pekat.
Melelahkan, hanya itu yg ia dapat di malam hari.
Sebuah keluhan, mungkin tak pantas ia ceritakan, sudah terlalu sering.
Dia menjawab sebuah salam, salam tentang mengembalikan sesuatu yg sudah seharusnya dilakukan sejak lama.
Hanya saja, keadaan memaksa agar ia tetap menggunakan itu.
Hari ke hari, hanya hujan yg turun, langit gelap, bersama tiupan angin.
Dan sekarang ia lupa kapan terakhir merasa bahagia.
Sepi, orang-orang yg terus pergi, dan rasa benci yg belum bisa berdamai dihati.
Melelahkan, hanya itu yg ia dapat di malam hari.
Sebuah keluhan, mungkin tak pantas ia ceritakan, sudah terlalu sering.
Dia menjawab sebuah salam, salam tentang mengembalikan sesuatu yg sudah seharusnya dilakukan sejak lama.
Hanya saja, keadaan memaksa agar ia tetap menggunakan itu.
Hari ke hari, hanya hujan yg turun, langit gelap, bersama tiupan angin.
Dan sekarang ia lupa kapan terakhir merasa bahagia.
Sepi, orang-orang yg terus pergi, dan rasa benci yg belum bisa berdamai dihati.
Sabtu, 06 Oktober 2018
Senja
Senja kali itu tampak bukan seperti senja.
Yang ku tau, senja itu saat kita berada di tepi sungai dan menatap matahari yg sudah ingin menenggelamkan diri.
I was happier, at that time.
Kita tertawa, lalu menangkap keindahan air disana.
Aku disini, di samping kaca yg basah karna air hujan, diluar begitu gelap, tak ada senja yg biasa kita lihat.
Aku benci semua hal yg membuatku terus mengingat, tapi aku tak pernah membenci hujan.
Tetesan itu begitu tulus, seperti rasa cinta yg selalu kau abaikan.
Aku bergegas, tak ingin larut, tapi aku membiarkan mata ku jujur, mungkin rindu tidak memerlukan balasan, karna kesadaran atas sebuah rasa itu lebih baik untuk diperhatikan.
Yang ku tau, senja itu saat kita berada di tepi sungai dan menatap matahari yg sudah ingin menenggelamkan diri.
I was happier, at that time.
Kita tertawa, lalu menangkap keindahan air disana.
Aku disini, di samping kaca yg basah karna air hujan, diluar begitu gelap, tak ada senja yg biasa kita lihat.
Aku benci semua hal yg membuatku terus mengingat, tapi aku tak pernah membenci hujan.
Tetesan itu begitu tulus, seperti rasa cinta yg selalu kau abaikan.
Aku bergegas, tak ingin larut, tapi aku membiarkan mata ku jujur, mungkin rindu tidak memerlukan balasan, karna kesadaran atas sebuah rasa itu lebih baik untuk diperhatikan.
Langganan:
Postingan (Atom)
